Khidr di Tengah Kota: Menyoal Sampah dan Keselamatan

khidr

Oleh: Al Muiz Ld.

Once upon a time, sekitar dua tahun yang lalu, di sebuah desa yang ramai akan segerombolan pendatang dari penjuru Nusatara. Gerombolan yang datang mencari ilmu dari kampus negeri atau pun swasta yang memadati kampung yang dulunya asri nan rindang dengan pemandangan sawah nya. Kampung yang mengalir deras pemikiran para intelektual muda dari kalangan pemuda Islam Indonesia, hingga saat ini. (more…)

Hai Hujan

Oleh: Al Muiz Ld.

Hai hujan
Ini sudah malam kan,
Kenapa kau masih keluyuran?
Hai hujan
Petang akan hilang
Kau tetap tak mau pulang

Hai hujan

Terkadang ia egois
Mencacimu
Memakimu
Mengusirmu
Ia lupa
Kau telah membasahi bumi
Memberi minum kepada yang dahaga
Memberi kesejukan kepada yang gerah
Memberi rizki kepada semesta
Ia lupa
Kau telah membasahi tumbuhan
Tumbuhan telah memberi makan domba
Dan keduanya memberi makan manusia

Hai hujan
Sampaikanlah kepada Rajamu
Agar kau tetap bisa membasahi
Penghuni bumi

*Kala terjebak hujan di sudut warung kopi

Malang- Kape Kopi, 11 Okt 2016
01.58 wib (Estetika)

Kopi Pahit Tere Liye

darwis

Oleh: Al Muiz Ld.

Selamat pagi Indonesia, salam satu jiwa. Di pagi yang sejuk ini janganlah lupa meminum kopi manis kalau bisa ditambah madu, bersanding gorengan, karena sungguh kopi dan gorengan bagaikan kebahagian semesta. Kopi dan gorengan wajib menemani pagi mu, dengan membaca basmalah insya Allah kadar gizi nya setara dengan 4 sehat 5 sempurna. (more…)

Nangkring Bareng Gus Aan

Oleh: Al Muiz Ld.

Malang- Hujan deras mengguyur dan membasahi tanah, secara rata dan menembus inti bumi arema. Hal itu lah yang menjadikan kesempatan bagi kami untuk nangkring di pinggir jalan. (10/10)

Dari landungsari, kami melanjutkan perjalanan dengan motor, tanpa mantel. Maka wajarlah jika hujan membasahi sekujur tubuh. Tanpa mengambil resiko, saya dan Gus Aan mampir ke warung pinggir jalan. Yah, sebut saja angkringan.

Sesampai di warung. Kami segera memesan kopi jos ala angkringan Jogja. Ditambah lagi dengan menu ringan, baceman telur puyuh, kepala ayam dan usus. Lezat, nikmat dan mantap.

Sambi menikmati menu jalanan, kami berdialog lebar tentang media online. Kebetulan beliau baru tahu ada gubuk tulis di Malang. Disana kami berdiskusi tentang pengelolaan web dari plug-in hingga app web. Yah, alhamdulillah lah jadi tahu fungsi plug-in dan app. 

Selain itu, gus Aan juga menjelaskan maksud dan kedatangannya di Malang. Beliau di Malang selama seminggu ini dalam event study kristen-islam. Event itu menerapkan solidaritas antar kedua umat beragama, yang tidak secara detail diceritakannya. Hal terpenting dari kedatangannya ialah silaturrahmi, katanya. Sambil mengalir kami ngobrol terkait gubuk tulis.

Tak terasa jagong menikmati seduhan kopi berlangsung cukup lama. Hingga kopi dalam cangkir tinggallah ampas. Layaknya materi/harta, yang setiap hari akan habis. Berbeda pula dengan wawasan intelektual, yang akan bertambah jika didialogkan dan akan berlipat jika diaplikasikan. 

Waktu menunjukkan pukul 01.03 WIB. Saatnya kami kembali ke rumah dinas untuk mengisi acara hari Senin. Sambil merasakan sendunya hujan tipis-tipis tanpa jas hujan. Kami pun melanjutkan perjalanan. []

Malang- Angkringan Tlogomas- Minggu, 09 Okt 2016

W.R Supratman dan Nyanyian yang Terlupakan

nyoozee com

sumber: nyoozee com

Oleh: Al Muiz Ld.

Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak luput dari peran negarawan, agamawan, seniman atau budayawan. Syair sumpah pemuda sebagai kesaksian warga negara atas bangsa, negara dan bahasa menjadi  sebuah energi atas Bhineka Tunggal Ika guna mengusir para penjajah. Ingat, segenap bangsa Indonesia, bukan hanya negarawan atau pun agamawan, akan tetapi termasuk juga seniman, budayawan atau lainnya. (more…)

Dialog Toleransi Gusdurian dan GKI

IMG-20150808-WA0009

Oleh: Al Muiz Ld.

“Kebhinekaan merupakan corak yang telah melekat dan mampu bertahan cukup lama di Indonesia. Yang dimana, Secara historikal Indonesia lahir dari beragam keyakinan, suku, ras hingga budaya lokal. Embriologi Indonesia bukanlah lahir dari rahim yang memiliki struktur kemasyarakatan yang homogen, akan tetapi ia adalah “anak kandung” dari heterogenitas kultur masyarakatnya, yang menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia masih begitu kokoh berdiri sampai saat ini. memancarkan nuansa dinamis bagi bangsanya, agar manusia saling memahami satu sama lain bahwa sesungguhnya Tuhannya menciptakan makhlukNya berbeda-beda, untuk saling mengenal (li ta’arafu) serta berlomba-lomba dalam kebajikan (fastabiqul khoirot)”.

(more…)

Perempuan di Persimpangan Jalan

Oleh : Al Muiz Ld.

Ingatkah kalin akan sebuah kisah wanita hebat sebelum Kartini lahir, ialah Sanikem alias Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia. Seorang gadis pribumi-Belanda yang dijadikan gundik oleh ayahnya sendiri, terbangun dan melawan. Betapa terharunya sebuah kisah Sanikem (Nyai Ontosoroh, sebutan akrabnya di Wonokromo Surabaya) yang terdampar pada sebuah penindasan, ketidakadilan dan feodalisme bangsa Eropa. Gadis berdarah indo-Belanda ini, setiap hari nya dituntut untuk memberi kepuasan Tuannya yang membabi buta. Tidak cukup itu, anaknya yang rupawan, Annelisa Mellema pun telah dinodahi oleh kebringasan abangnya, Robert Mellema, yang akhirnya dinikahkan dengan Minke. Trauma itu membuat jiwanya rapuh, sulit bergaul dan selalu berlindung di balik kebesaran ibunya. (more…)

Kota Kreatif?

FB_IMG_1443022071157

Oleh: Al Muiz Ld.

Bercerita mengenai kota kreatif bagi saya adalah hal baru, bagi orang yang di besarkan di desa, dan baru lima tahun hidup di kota. Sedikit pendahuluan, sejak zaman Nabi Muhammad SAW hadir di muka bumi, gambaran peradaban kota sudah ada. Dan sering disebut sebagai Madinah Al Munawwaroh (Kota yang bercahaya), bahkan sebuah konstitusi dari kota tua ini menjadi rujukan negara- negara untuk membangun kota yang majemuk dan berkeadilan. (more…)