Secangkir Kopi


Oleh: Al Muiz Ld.

Dahaga merangrang sekujur tubuh
Saat akal tak lagi nakal
Saat hati tak lagi simpati
Saat kaki tak lagi berfungsi
Saat diri tak lagi berbakti

Disana ada secangkir kopi

Secangkir kopi,
Mampu menginjeksi energi
Dari mulut merasuk ke akal budi
Hingga kau bisa kembali berimajinasi

Secangkir kopi,
Meneduhkan problema
Yang penuh teka teki
Dengan pisau tiki taka
ala Neymar, Suarez dan Messi

Secangkir kopi,
Episode dialektika manusiawi
Bisa jadi konsolidasi
Antar generasi
Menolak kedzoliman korporasi

Semoga besok bisa bangun pagi
Dan melakukan aksi

Malang-KopiLanang,
Rabu, 12 Oktober 2016
02.23 WIB

Advertisements

Khidr di Tengah Kota: Menyoal Sampah dan Keselamatan

khidr

Oleh: Al Muiz Ld.

Once upon a time, sekitar dua tahun yang lalu, di sebuah desa yang ramai akan segerombolan pendatang dari penjuru Nusatara. Gerombolan yang datang mencari ilmu dari kampus negeri atau pun swasta yang memadati kampung yang dulunya asri nan rindang dengan pemandangan sawah nya. Kampung yang mengalir deras pemikiran para intelektual muda dari kalangan pemuda Islam Indonesia, hingga saat ini. Continue reading

Hai Hujan

Oleh: Al Muiz Ld.

Hai hujan
Ini sudah malam kan,
Kenapa kau masih keluyuran?
Hai hujan
Petang akan hilang
Kau tetap tak mau pulang

Hai hujan

Terkadang ia egois
Mencacimu
Memakimu
Mengusirmu
Ia lupa
Kau telah membasahi bumi
Memberi minum kepada yang dahaga
Memberi kesejukan kepada yang gerah
Memberi rizki kepada semesta
Ia lupa
Kau telah membasahi tumbuhan
Tumbuhan telah memberi makan domba
Dan keduanya memberi makan manusia

Hai hujan
Sampaikanlah kepada Rajamu
Agar kau tetap bisa membasahi
Penghuni bumi

*Kala terjebak hujan di sudut warung kopi

Malang- Kape Kopi, 11 Okt 2016
01.58 wib (Estetika)

Nangkring Bareng Gus Aan

Oleh: Al Muiz Ld.

Malang- Hujan deras mengguyur dan membasahi tanah, secara rata dan menembus inti bumi arema. Hal itu lah yang menjadikan kesempatan bagi kami untuk nangkring di pinggir jalan. (10/10)

Dari landungsari, kami melanjutkan perjalanan dengan motor, tanpa mantel. Maka wajarlah jika hujan membasahi sekujur tubuh. Tanpa mengambil resiko, saya dan Gus Aan mampir ke warung pinggir jalan. Yah, sebut saja angkringan.

Sesampai di warung. Kami segera memesan kopi jos ala angkringan Jogja. Ditambah lagi dengan menu ringan, baceman telur puyuh, kepala ayam dan usus. Lezat, nikmat dan mantap.

Sambi menikmati menu jalanan, kami berdialog lebar tentang media online. Kebetulan beliau baru tahu ada gubuk tulis di Malang. Disana kami berdiskusi tentang pengelolaan web dari plug-in hingga app web. Yah, alhamdulillah lah jadi tahu fungsi plug-in dan app. 

Selain itu, gus Aan juga menjelaskan maksud dan kedatangannya di Malang. Beliau di Malang selama seminggu ini dalam event study kristen-islam. Event itu menerapkan solidaritas antar kedua umat beragama, yang tidak secara detail diceritakannya. Hal terpenting dari kedatangannya ialah silaturrahmi, katanya. Sambil mengalir kami ngobrol terkait gubuk tulis.

Tak terasa jagong menikmati seduhan kopi berlangsung cukup lama. Hingga kopi dalam cangkir tinggallah ampas. Layaknya materi/harta, yang setiap hari akan habis. Berbeda pula dengan wawasan intelektual, yang akan bertambah jika didialogkan dan akan berlipat jika diaplikasikan. 

Waktu menunjukkan pukul 01.03 WIB. Saatnya kami kembali ke rumah dinas untuk mengisi acara hari Senin. Sambil merasakan sendunya hujan tipis-tipis tanpa jas hujan. Kami pun melanjutkan perjalanan. []

Malang- Angkringan Tlogomas- Minggu, 09 Okt 2016

W.R Supratman dan Nyanyian yang Terlupakan

nyoozee com

sumber: nyoozee com

Oleh: Al Muiz Ld.

Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak luput dari peran negarawan, agamawan, seniman atau budayawan. Syair sumpah pemuda sebagai kesaksian warga negara atas bangsa, negara dan bahasa menjadi  sebuah energi atas Bhineka Tunggal Ika guna mengusir para penjajah. Ingat, segenap bangsa Indonesia, bukan hanya negarawan atau pun agamawan, akan tetapi termasuk juga seniman, budayawan atau lainnya. Continue reading