Sajak Santri

20150715_200923

Oleh: Al Muiz Ld.

Plak plak plak
Klompen pak kyai berbunyi berirama rapi
Berbilangan dua per dua
Tanpa ada mayor dan minor
Suaranya bersajak layaknya syiir Continue reading

Advertisements

Jelata dan Nestapa

Oleh: Al Muiz Ld.

Biar ku buat kata kata untuknya
Sekedar menyulut bara atas asa
Mendengar suara rintih manusia
Terkapar tertimpa nestapa

Jam dinding berdetak
Sedikit tersentak
Atas hadirnya lelaki perjaka peminta-minta
Sambil memainkan dawai gitarnya
Selang beberapa detik
Ditambah hujan yang merintik
Wanita tua itu kembali melangkah tak mau mendekat
Mengajak anaknya meminta-minta
Berharap simpati dan iba

Oh Tuhan,
Nenek peot merongrong di jalanan
Ibu yang rela menghardik anaknya
Lelaki perkasa tak kuat nyali
Dan terpaksa terluntah
Atau memang disengaja

Oh Tuhan,
Salah apa negeri ini?

Oh Tuhan,
Para ulama sibuk berdakwah
Para penguasa asyik berkuasa
Para petinggi gila akan kursi
Apakah negara tak lagi berguna?

Jelita jelata mulai pandai memanipulasi
Manfaatkan nestapa di negeri sendiri
Jelita jelata telah tereksploitasi
Oleh mandor berjas dan berdasi
Jelita jelata mulai terkebiri
Atas nasib hidup setiap hari
Jelita jelata gemar wira wiri
Bernyanyi dan menjual harga diri

Malang- JelataKopi
Rabu, 12 Okt 2016
12.30 WIB

Matrealisme Rasa

Oleh: Al Muiz Ld.

Sering kali
Ada yang terlewat
Ada yang mengganjal
Ada yang tak terawat
Bahkan terlewat

Senja membincang kata dan kata kata
Dimana memposisikan rasa dalam kata
Ada kata yang sibuk dengan estetika
Dan lupa akan etika
Ada kata yang mendakwah
Sebenarnya dusta

Terus,
Dimana posisi kata
Kata kata bukanlah kosong
Ia berbaris indah
Dalam puisi ia berbait tak rata
Ada pesan rasa yang disampaikannya
Atas ungkapan yang tak tersampaikan
Atas pikiran yang difakirkan
Atas rasa yang dihamburkan

Puisi tak hanya berbicara mawar merah,
Harumnya semerbak
Menawan jutaan wanita
Selaksa sihir buta

Apalah arti kata, jika tidak bermakana
Tak lagi membara
Tak lagi menganga
Tak lagi menggerakkan
Jutaan manusia,
Untuk sadar bahwa dirinya terjajah

Puisi itu mewakili rasa
Memperjuangkan hak manusia
Agar bisa hidup bahagia

*Tulisan ini dibuat saat diskusi bersama mas Andy Sri Wahyudi (Penulis Buku Puisi Energi Bangun Pagi Bahagia)

Malang-KafePustaka
Rabu, 12 Oktober 2016
17.01 WIB

Hai Hujan

Oleh: Al Muiz Ld.

Hai hujan
Ini sudah malam kan,
Kenapa kau masih keluyuran?
Hai hujan
Petang akan hilang
Kau tetap tak mau pulang

Hai hujan

Terkadang ia egois
Mencacimu
Memakimu
Mengusirmu
Ia lupa
Kau telah membasahi bumi
Memberi minum kepada yang dahaga
Memberi kesejukan kepada yang gerah
Memberi rizki kepada semesta
Ia lupa
Kau telah membasahi tumbuhan
Tumbuhan telah memberi makan domba
Dan keduanya memberi makan manusia

Hai hujan
Sampaikanlah kepada Rajamu
Agar kau tetap bisa membasahi
Penghuni bumi

*Kala terjebak hujan di sudut warung kopi

Malang- Kape Kopi, 11 Okt 2016
01.58 wib (Estetika)