“Membincang Gerakan Dakwah Islamiyah”

20141109_164744

Banyak hal perlu kita lakukan untuk menjadi kader ulul albab, kader yang selalu berdzikir, berfikir dan ber-amal sholeh. Untuk menjadi kader ulul albab tentunya tidak bisa diperoleh dengan diam/bengong, apalagi memperbanyak barisan orang malas dan tidur-tiduran. Kader ulul albab inilah yang kemudian dituntut untuk menumbuhkan critical sensitivity – sensifitas kritis. Kritis akan segala hal yang mengganggu ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an kita dalam berbangsa dan bernegara.

Sensifitas kritis inilah yang akan menjadikan transformasi sosial menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Menuju penemuan akan nilai ke-Indonesia-an dan ke-Islaman sejati. Sehingga dibutuhkan gerakan kongkrit dalam menjaga dan memelihara nilai dasar pergerakan. Salah satunya adalah membangun kepedulian akan gerakan dakwah islamiyah akhir ini.

Berbicara mengenai aktivitas dakwah islamiyah di sekitar kita masih menjadi hal yang menarik, mengingat banyaknya aktivitas dakwah islamiyah yang jauh dari ajaran islam itu sendiri. Memang jika kita lihat, aktivitas dakwah ini sangat masif tumbuh dan berkembang di surau, musholla dan masjid. Selain tumbuh dan berkembang secara konvensional, dakwah islamiyah juga berkembang sangat cepat di media online – di era kontemporer ini.

Pertumbuhan dan perkembangan dakwah yang mulai menjamur di masyarakat kita, apakah sudah mencerminkan nilai ke-islam-an itu sendiri? Nilai luhur yang diajarkan agama damai, selamat dan sejahtera itu. Hal itu patut untuk menjadi wacana kritis bagi segenap insan pergerakan. Sehingga, semangat untuk membawa agama rahmat bagi sekalian alam bisa terealisasikan ke segala penjuru.

Dakwah Islam

Secara bahasa, dakwah memiliki arti memanggil, mengajak atau menggerakkan. Sedangkan secara istilah, dakwah bisa diartikan sebagai aktivitas untuk memanggil, mengajak atau menggerakkan setiap orang untuk melakukan kebaikan dalam melaksanakan tradisi ke-islam-an. Tradisi beragama secara waras agar semua manusia sadar akan posisinya sebagai makhluk abdi dan khalifah.

Terminologi dakwah telah digunakan dalam peradaban islam, sejak zaman nabi hingga saat ini. Dakwah menjadi istilah populer dalam ajakan-ajakan beragama, ajakan untuk menebarkan ajaran islam secara ritual maupun sosial. Ajaran dakwah ini telah diformulasikan secara apik sejak zaman Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW dalam peradaban islam telah melakukan dua model  ajaran dakwah dalam dua periode – ajaran dakwah dengan sembunyi-sembunyi (sebelum hijrah) dan terang-terangan (setelah hijrah). Tentu dua metode dakwah yang dilakukan nabi ini bukan tanpa alasan. Nabi telah melakukan dua metode dakwah yang ideal dan masif agar mudah diterima oleh penduduk Arab (Mekah-Madinah).

Dakwah yang dilakukan Nabi ini merupakan dakwah di abad permulaan islam. Tentu sebagai agama baru di Arab, pasti banyak tekanan dari penganut kepercayaan lain. Kitab peradaban islam banyak menceritakan hal itu, sebagaimana bukti adanya musuh nabi yang nyata seperti Abu Jahal dan Abu Lahab – nama yang telah diabadikan dalam Al Qur’an sebagai manusia yang memiliki watak iblis.

Sebagaimana yang dilakukan Nabi, dakwah islam di Indonesia pun hadir penuh tantangan yang luar biasa. Banyak jalur penyebaran islam ke Indonesia. Diantaranya adalah jalur perdagangan, sejak zaman perdagangan Arab-Nusantara islam sudah masuk – akan tetapi dakwah yang dilakukan pedagang Arab kurang masif. Sehingga pada awal abad 14, tumbuh dan berkembang keturunan Arab yang datang ke Indonesia, memiliki peranakan yang sholeh dan selanjutnya mereka dikenal oleh masyarakat sebagai wali – sebagai orang yang dikasihi/disayangi dan diberi mandat untuk melakukan dakwah islamiyah. Kalau di pulau jawa dikenal dengan sebutan wali songo. Sejak itulah dakwah islamiyah tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Dakwah islamiyah yang terjadi pada fase wali songo berjalan masif dan damai. Wali songo menggunakan metode dakwah partisipatoris-akulturatif. Metode dakwah dengan pendekatan masyarakat secara intensif dengan materi peleburan budaya lokal dengan nilai agama – seperti intenalisasi nilai spiritualitas ke-islam-an dalam wayang, tembang hingga kidung-kidung. Sehingga, islam dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia.

Pertanyaannya saat ini, apakah model dakwah islam di Indonesia di era media-informasi ini memiliki metode serijit itu? Atau bahkan belum ada metode ideal dalam penyebaran/ dakwah islam kontemporer yang pas atau ideal. Jika belum ada, metode apa yang dikembangkan dakwah islamiyah – yang tumbuh subur di masjid kampung, kampus dan perkotaan? Pertanyaan ini perlu dipecahkan dengan telaah mendalam.

Gerakan Dakwah di Malang

Malang yang terkenal dengan kota pendidikan, kota yang memiliki banyak kampus menjadi santapan empuk bagi gerakan apa saja – gerakan ke-islam-an misalnya. Malang sering terlelap dan lalai dalam menjaga ke-Indonesia-an yang harmoni dengan kebhinekaan. Mungkin karena Malang yang dingin sangat tepat untuk membekukan otak agar berhenti berfikir dan membekukan sendi-sendi tubuh agar tak ada gerakan dakwah islam yang rahmat. Sehingga, gerakan islam banyak tumbuh dan berkembang di kota ini tanpa filter dan pantauan pemerintah.

Sangat disayangkan jika gerakan dakwah islamiyah di kota pendidikan tanpa ada filter, atau antisipasi apapun. Jika demikian, di mana wajah pendidikan di kota Malang itu? Ataukah “Pendidikan” hanya menjadi brand yang selalu diagungkan. Sehingga tidak perlu lagi ada dialog dan aksi untuk menjaga Indonesia dari fundamentalisme agama. Di mana kah mereka kaum terpelajar, kaum pergerakan dan kaum islam Indonesia?

Penulis pernah menjumpai banyak gerakan dakwah yang ahistoris dan ekstrim kanan. Di antaranya di sebuah masjid sekitar UM dan di sebuah even buku bulanan di sekitar balai kota. Tidak hanya itu, di kampus islam pun masih sering terjadi ajakan dakwah islamiyah – yang menyeru khilafah islamiyah.

Sudah menjadi kegelisahan bagi penulis khususnya. Akankah gerakan dakwah semacam itu tetap kita biarkan. Padahal kita ketahui bersama, merekalah yang telah mengganggu ke-Indonesi-an kita. Banyak dari mereka kurang memahami sejarah – atau tidak mengetahui sama sekali.

Kaum terpelajar yang memiliki rasa nasionalisme dan pemahaman islam Indonesia haruslah bersatu padu melawan bahaya laten dakwah islamiyah berbau radikalisasi-fundamental. Mengajak semuanya untuk membaca gerakan dakwah islamiyah dengan baik, apakah dakwah itu benar-benar mengajak kebaikan atau malah menghancurleburkan kehidupan berbangsa kita. Sehingga, perlu ada perhatian khusus gerak-gerik dakwah islamiyah yang ada di Indonesia, khususnya kota Malang.

Malang, 23 Maret 2017

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s