Eksil dan Cerita dari Praha

warsito

Oleh: Al Muiz Ld. 

Iseng, malam- malam di kamar memindah gadget dan media sosial yang ada di HP saya. Setelaah main pool di HP, lanjut dengan membuka situs media online yang bisa menambah wawasan, dan terakhir facebook, bbm serta twitter pun tak luput dari incaran keisengan malam ini. Keisengan malam ini berujung pada iming- iming Gus Zuhairi Misrawi di twitter nya yang sekelumit mendeskripsikan film yang telah ia tonton, yakni “a copy of a my mind” dan “surat dari praha”. Kemudian, wining solution dari keisengan saya adalah membuka window di laptop, membuka youtube dan mencari informasi terkait film Surat Dari Praha.

Surat dari Praha mengkatalis naluri saya untuk segera menuangkan imajinasi nan edukatif di jendela Mc word, seakan meng-inbox hati dan pikiran untuk belajar di malam jum’at sendu ini. Dibalik layar youtube dan memahami pesan dari film tersebut membuat hati tergugah untuk menyidik ada apa dibalik surat dari Praha, disamping itu, sebenarnya penulis juga nge-fans berat dengan artis cewek nya, siapa lagi kalau tidak kakak Julie Estelle.

Film ini di produseri oleh Mas Glenn, dkk., musisi yang terkenal dengan melankolis nya. Dengan beberapa aktor dan artis diantaranya Julie Estelle (Laras), Rio Dewanto (Dewa), Tio Pakusodewo (Jaya), Widyawati (Ibu Larasati) dan Chico Jerico. Dengan latar nan epik dan soundtrack yang sendu, racikan film ini menjadi spektakuler meramu nostalgia peradaban sejarah Indonesia.

Diksi surat sudahlah jelas mengambil latar historis, kalau era modern pasti memakai whatsapp atau media sosial. Bukan lah itu yang terpenting, Surat dari Praha ini mendeskripsikan syahdu nya masa lalu yang bernuansa percintaan dan diliputi gejejolak politik masa lalu, alias gejolak poltik di Indonesia tahun 65-an. Penuh tanda tanya besar, ada apakah dengan surat- surat itu, berjuta surat yang telah dilayangkan kepada perindu di negeri sebrang terputus oleh sebuah kediktatoran. Sungguhlah menarik surat yang membisik “cinta, politik dan sejarah” ini.

Insiden G30S-PKI di Indonesia menjadi sebuah roman panjang yang membumbuhi pedas nya tanah air beta. Banyak bangsa yang terlibat, entah sebagai pemain, pemasung serta korban dari keganasan 65’. Rekonsiliasi dikowar- kowarkan, padahal sudah nampak dalang penumpasan manusia tak berdosa di negeri ini, tapi tidak lah perlu untuk kita tumpahkan darah lagi kan?, setelah tahu siapa dalang, sandra dan korban.

Di luar adegan itu, terdapat ratusan warga negara yang didelegasikan untuk belajar ke luar negeri, salah satu nya ialah di Kota Praha. Banyak intelektual khas Indonesia dengan sengaja diungsikan di sebrang kampung halaman, yang tak bisa dijangkau dengan teknologi, apalagi informasi, ratusan surat diduga send failed. Bahkan surat cinta ibu kepada anaknya, yang merindu pun tak tersampaikan.

Film ini bercerita mengenai eksil 65’ yang sengaja diberangus dari rumahnya sendiri, pelajar yang dibuli oleh antek orde baru. Sastrawan, budayawan, seniman, ekonom dan ilmuwan hebat lainnya dipatahkan harapannya di rumah sendiri, dengan taktis beasiswa luar negeri, padahal ada hal di balik itu yang amat ngeri untuk diingat kembali. Ratusan eksil tidaklah bisa mendapat paspor untuk pulang ke rumahnya, hak kewarganegaraannya pun seketika beralih, bahkan tak beridentitas.sehingga, terpaksalah rindu negeri dan tanah air menjadi prahara di Praha bagi sebagian eksil, akan tetapi tak menjadikan benci terhadap tanah sendiri.

“Saya menentang orde baru, dan atas keputusan itu, saya kehilangan kewarganegaraan, tapi saya bukan lah komunis” Sentak Jaya, menanggapi pertanyaan Larasati yang menanyakan ketidakpulangannya ke Indonesia. Ketegasan Jaya sebagai representasi eksil di Praha, menunjukkan betapa besar cinta nya kepada Ibu Larasti hingga cinta dan bangga terhadap tanah air Indonesia. Sungguh tega dan kejam orde baru, tidak hanya perjuangan cinta akan tanah air, akan tetapi hasrat mencinta dan merindu sang merpati putih pun terberangus oleh bangsa sendiri.

Tidak hanya yang mengaku komunis atau tidak, rezim inu menumpas siapa saja yang mengganggu keserakahan nya. Akan segera memenjarakan siapa saja yang memberitakan miring terhadapnya, akan segera membungkam ilmuwan dan meracuni siapa saja yang mengganggu ketertiban politik nya. Begitu kejamnya warisan sejarah itu.

Memang perjuangan kita kini menjadi lebih besar dari imprealis-kolonialis, musuh kita sekarang adalah bangsa sendiri yang kasat oleh mata. Bahkan Bung Karno pun pernah berorasi, ‘perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri’. Beginilah faktanya negeri yang diduga setengah merdeka, kedaulatan semu dan keadilan yang tidak berkeadilan.

Setelah itu, menuju facebook ada salah satu teman yang mempost salah satu ilmuwan Indonesia yang berparas eksil model baru. Beliau adalah penemu Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) untuk terapi kanker, Warsito Purwo Taruno, memilih untuk mengembangkan teknologi antikankernya di luar negeri, setelah di dalam negeri belum mendapatkan lampu hijau dari pemerintah. Dua kementerian yaitu Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi masih mengevaluasi teknologi temuan Warsito tersebut. (baca: http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/734420-warsito-ke-luar-negeri-kemenristekdikti-panik )

Sejarah Indonesia, sejak orde lama, panas- panas nya orde baru, reformasi hingga revolusi mental ala Jokowi, masih tetap ada saja eksil berwajah baru. Mereka diasingkan, dengan kreatifitas yang luar biasa. Seperti, Surono Danu yang turut andil memperjuangkan ketahanan pangan di Indonesia di bidang bibit unggu padi, Ricky Elson sang kreator motor elektrik yang pernah di kontrak Indonesia hingga Warsito penemu teknologi antikanker yang layak dikembangkan di dunia. Akan tetapi, semua mimpi peradaban abbasiyah kini sirna di Indonesia. Karena, mungkin Indonesia hanya membutuhkan politisi yang berkompeten memakan uang rakyat, trilliunan.

Semoga generasi muda kini lebih membuka wacana, bahwa sejarah akan memberi bekal kepada peradaban emas Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s