Khidr di Tengah Kota: Menyoal Sampah dan Keselamatan

khidr

Oleh: Al Muiz Ld.

Once upon a time, sekitar dua tahun yang lalu, di sebuah desa yang ramai akan segerombolan pendatang dari penjuru Nusatara. Gerombolan yang datang mencari ilmu dari kampus negeri atau pun swasta yang memadati kampung yang dulunya asri nan rindang dengan pemandangan sawah nya. Kampung yang mengalir deras pemikiran para intelektual muda dari kalangan pemuda Islam Indonesia, hingga saat ini.

Selama dua tahun saya dan sahabat- sahabat turut memadati kampung itu, di gubuk yang sederhana nan kumuh. Kekumuhan itu memang bukan lah kami sengaja, akan tetapi konstruksi bangunan yang sudah tua dan banyak pondasi- pondasi dari atas ke bawah sudah mulai rapuh. Gubuk yang biasa kami tempati untuk berkumpul, berdiskusi hingga bermain PS bersama, layaknya rumah suka dan duka bagi kami.

Setiap minggu kami bekerja bakti untuk membersihkan sampah- sampah yang telah menumpuk di gubuk kami, bahkan sesekali kami menata ulang atau merenovasi gubuk dari barang- barang yang kurang tertata dan tidak digunakan, dan tidak lupa kami memilah sampah nya. Kebiasaan itu kami lakukan guna memberikan kenyamanan bagi yang berdomisili atau pun sahabat yang bertamu ke gubuk kami. Hampir setiap hari terdapat sampah di ruang depan, tengah dan kamar-kamar. Yang terserak adalah di ruang tengah di depan televisi, karena disanalah sahabat beristirahat setelah kecapekan dari kampus dan sedang menonton televisi.

Saat kerja bakti dan renovasi, yang keberapa kalinya. Saya dan sahabat- sahabat melakukannya dengan asyik dan bahagia, dengan meminjam gerobak warga kampung. Gerobak tersebut kami gunakan untuk mengangkut sampah yang kita kumpulkan untuk kami buang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Kebiasaan dari kami seusai kerja bakti ialah enggan untuk membang sampah yang telah tertumpuk penuh di gerobak, dan itu bahkan parkir di sebelah gubuk kami beberapa hari, dan amatlah cepat membawa tumukan plastik dan kertas ke para pengepul untuk mendapatkan uang. Ketika saya sudah puas melihat gerobak yang dipenuhi sampah itu parkir di sebelah gubuk, mulailah saya mengajak salah seorang sahabat untuk segera mengantarkan tumpukan sampah ke TPS.

Saat malam tiba, sekitar pukul 00.30 WIB setelah kami pulang dari ngopi, kami kembali ke gubuk untuk beristirahat, akan tetapi ada suatu yang mengganjal dari saya saat sampai di gubuk tercinta. Pada akhirnya saya mengajak salah seorang sahabat untuk mangangkut sampah yang terparkir itu.

“Zal, sampah di samping sudah lama parkir, tidak enak dilihat warga, Yuk kita buang ke TPS”, Ucap saya kepada salah sahabat yang bernama Rizal

“Dibuang kemana mas biasanya?”, sahut Rizal dan bertanya

“Biasanya sih di daerah belakang Sardo swalayan, tapi kalau malam begini tutup”

“oh iya, di buang ke TPS pasar Merjosari saja mas, desa sebelah”

“Oke, berangkat!”

Jegreg, jegreg, jegreeeeng. Saya menyalakan motor untuk membawa gerobak bertumpukan sampah itu ke TPS pasar Merjosari, laju motor dan gerobak melaju pelan menyusuri 2 km jalan menuju TPS Pasar Merjosari, sekitar 5 menit kita sampai di TPS , dan kami pun turun. Bau busuk sampah pasar pun menyambut kedatangan kami. Membuat sedikit sensi dan saling melempar tugas untuk menuangkan sampah ke TPS, dan pada akhirnya saya sendiri yang mendorong gerobak dan Rizal yang menuangkannya.

Gludukkkk,, gluduk,, gludukkk,, Brokkkkk..

Akhirnya sampah itu terbuang di TPS pasar Merjosari, tanpa menghiraukan manusia berambut gondrong dan berpakaian compang- camping, yang duduk diam di sebelah TPS yang hanya melihat kita. Yang pada akhirnya setelah sampah terbuang dan kami ingin melanjutkan perjalanan pulang, manusia berambut gondrong itu menghentikan laju gerobak itu, dengan alis menungkik ke atas sambil menggelung rambut gondrongnya.

“Berhenti dulu Nak!” Sambil memegang gerobak yang saya dorong ke bawah

“Iya pak, ada apakah?” Ucap saya kepada Bapak berambut gondrong itu

“Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan?, bernada keras dan mata melotot

“Iya Pak, saya hanya membuang sampah disini”, sahut saya sambil menunduk

“Terus, kamu tidak melihat siapa penghuni nya disini? Sampah ini dari Pesantren ya?”

“Mohon maaf Pak. Iya, sampah ini dari pesantren”, pesantren yang saya asumsikan disini ialah pesantren mahasiswa yang berada di kampung dan di gubuk kumuh itu.

“Sampean kan santri, mahasiswa juga kan, yo hendaknya itu memberikan salam kepada siapa saja yang kalian temui, ojok slunang slunung ae, lha aku iki koen anggep opo, sesama manusia itu harus memberikan keselamatan, keselamatan lahir dan bathin. Contohnya begini, kamu itu harus memberikan atau mengucapkan salam kepada orang lain dan itu sunah Nabi mu to, dan bagi orang lain menjawab salam itu wajib hukumnya, dan itulah keselamatan bathin yang pernah dicontohkan Nabimu”

“Enggeh Pak, mohon maaf, saya mau……” sahut saya, ingin segera pamit dari lokasi

“Sek, sek, sek…. tak terosne omonganku. Selanjutnya saya ini penjaga dan petugas sampah disini, sampah nya orang dari penjuru kota ini, dan itu memang kewajibanku, dan iki yo penggaweanku, Kalau kamu ngaji pasti dawuhe Kyai mu kan ‘Ann nadhofatu minal iman’ yang artinya adalah kebersihan itu sebagian dari iman, sebagian dari kepercayaanmu kepada Allah kan, maka orang yang peduli terhadap kebersihan atau sampah merupakan  ibadah (kebaikan) yang saling memberikan keselamatan bagi sesama manusia dan lingkungan sekitar. Bayangkan kalau tidak ada yang mengurusi sampah, terus sampah itu kamu timbun di rumah atau pondokmu, pasti banyak bibit penyakit yang akan mengganggu kesehatanmu. Demikianlah keselamatan lahir bathin itu. Makane dadi murid iku belajar seng tenanan, ojok lali bersyukur!

“Engge Pak, mohon maaf saya khilaf”

“Kamu orang mana?” Sambil menunjuk saya

“Saya orang Gresik Pak”

“Kamu?” dengan menunjuk wajah teman saya

Kulo ndugi Probolinggo Pak”, Jawab Rizal dengan bahasa Jawa

“Oke, jadi begini, menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki- laki atau perempuan, dan menuntut ilmu itu dianjurkan oleh Nabi sampai kemana saja, ‘Uthlubul Ilma walau bis Shiin’ yang artinya tuntutlah ilmu sampai negeri China, itu adalah perumpamaannya. Jadi yang dari Gresik atau Probolinggo mencari ilmu atau kuliah ke Malang, dan itu janganlah sampai menjadikan kalian Goblok seperti ini, seharusnya bertambah ilmu ne bertambah mengerti. Ngunu yo, ojok dibaleni goblokmu iki!”

“Enggeh Pak, Mohon maaf” Sahut saya dengan cepat, agar cepat bisa pulang

“Yowes, ati- ati!”, ucap Bapak sambil menepuk punggung saya dan Rizal

“Engge Pak, Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh”, Serentak Saya dan Rizal ucapkan

“Waalaikum salam warohmatullahi waborakatuh”, jawab Bapak berambut gondrong itu

Brokkkk, Brokk,, kami dorong gerobak mendekati motor saya. Greeeeng, meaniki motor sambil membawa gerobak dengan rasa penasaran.

“Itu siapa yo Zal? Padahal tadi awal nya kan kita mengira orang gila yo”, ucap saya kepada Rizal

“tidak tahu mas, dari penampilannya sih memang kayak orang gila mas”, jawab Rizal

“Aku curiga itu Malaikat atau Nabi Khidr yang lagi menyamar, kok bisa memberikan banyak pelajaran bagi kita dengan ilmiah dan penuh dengan kesejukkan. hehe”

“heheh, bisa saja mas, tidak habis pikir aku, kok bisa mahasiswa diceramahi petugas kebersihan yang sehebat itu, wkwk”

“Iya Zal, sudahlah, kita jadikan pelajaran, itu adalah guru kita malam ini”

“Iya mas, yang telah mengajari banyak hal kepada kita dari kebersihan, keselamatan hingga memperlakukan orang”

“Betul, sip!”

Akhirnya, sampai juga pada gubuk inspirasi di desa Sumbersari tercinta, dengan kelegaan setelah membuang tumpukan sampah. Tidur akan segera nyaman, bebas dari tanggungan tumpukan sampah itu pasti nya, akan tetapi masih terpikirkan insiden bersama Bapak berambut gondrong yang tidak saya kenal namanya. Dugaan saya dia adalah Nabi Khidr yang sedang menyamar di kerumunan Kota dan di keheningan kota Malang di malam hari. Teringat novel Gus Blero tentang Nabi Khidr di Tengah Kota, memaparkan kehadiran Nabi Khidr dalam segala urusan dan kerumitan hidup berbangsa dan bernegara, yang hadir di jalan raya, pasar dan istana.

Serasa telah menempuh mata kuliah 2 SKS malam itu. Dengan penuh rasa syukur, telah mendapat pelajaran baru bersama sahabat dan tumpkan sampah itu. Dan akhirnya dengan penuh rasa sadar, bahwa memanusiakan manusia adalah bagian dari teologi pembebasan.

“Belajarlah kepada siapapun, dan pengalaman sepahit apapun, niscaya kau kebijaksanaan menyertaimu!”

*Tulisan ini adalah realita yang pernah penulis alami.- Wassalamualaikum..

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s