Kopi Pahit Tere Liye

darwis

Oleh: Al Muiz Ld.

Selamat pagi Indonesia, salam satu jiwa. Di pagi yang sejuk ini janganlah lupa meminum kopi manis kalau bisa ditambah madu, bersanding gorengan, karena sungguh kopi dan gorengan bagaikan kebahagian semesta. Kopi dan gorengan wajib menemani pagi mu, dengan membaca basmalah insya Allah kadar gizi nya setara dengan 4 sehat 5 sempurna.

Hari lalu media sosial di Indonesia raya dihebohkan dengan status Bung Tere Liye, dan tadi pagi saya melihat Bung telah mengklarifikasi status yang lalu, akan tetapi media pun masih saja heboh. Jujur saja, saya tidak kenal dengan Tere Liye, akan tetapi beberapa karya nya pernah saya beli, sekitar dua novel yang saya lupa judul nya. Dua novel yang pernah saya beli, belum sempat membaca, hilang lah novel itu, sedikit merugi memang. Setelah melihat keributan di media online terkait Bung Tere Liye, saya menjadi berfikir keras untuk membeli novel nya kembali, saya takut dikira amnesia sejarah negeri sendiri, tolol dan goblok.

Sedikit menampilkan cuplikan Bung Tere Liye di akun FB nya;

“…Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan–yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh2 agama lain. Orang-orang religius, beragama.

Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silahkan cari.

Anak muda, bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan…”

Berbagai respon variatif dilontarkan kepada Bung Darwis, goblok, tolol hingga tuna sejarah. Saya sendiri kurang paham latar belakang Bung menulis status di akun FB nya, apa ia sedang menggalau tentang Indonesia, aku tak tahu. Yang jelas Bung Darwis sedang meminum kopi pahit hari lalu. Dikarenakan banyak kepahitan yang tertuju kepada bung yang tuna sejarah atau lainnya, yang tidak menganggap Soekarno sebagai sosialis yang baik, Tan Malaka sang nasionalis hebat ataupun Bung Hatta dan Bung Sjahrir. Jelaslah Bung telah belajar sejarah sejak dari SD hingga bung masih hidup ini. Ataukah saat belajar sejarah ia malah pergi ke kantin atau asyik bermain sepak bola?, saya tidak tahu.

Setahu saya Bung adalah novelis melankolis yang terkenal di Indonesia, yang karya nya digemari remaja hits saat ini. Di toko buku apapun pasti karyanya nongol di lensa mata kita, dan berkedok best seller. Saya mengakui bahwa Bung adalah penulis produktif di jaman hits dan serba 4G, di jaman para remaja amat muda terpesona dengan kata Cinta.

Saya bukan hendak menambahkan rasa pahit kepada Bung, hanya sedikit sharing saja tentang sejarah Indonesi, bukan pula hendak menggurui. Bung adalah orang hebat yang secara cepat bisa menghasilkan novel cinta terbaiknya bagi generasi muda. Akan tetapi, haruslah bung juga  membagi fakta sejarah yang benar kepada anak muda. Bahwa sejarah bangsa ini tidak lah luput dari banyak pihak mulai dari orang beragama, nasionalis, sosialis atau pun komunis. Secara logis dan sudah dideskripsikan oleh Bung Karno kosep Nasakom (Nasionalis, Sosialis, Agamis dan Komunis), itulah ksatria dan proklamator kemerdekaan RI.

Saya masih bingung dengan paham luar apa yang Bung Darwis maksud. Sebenarnya Indonesia sudah kaya akan ideologi dan filosofi, buktinya hadir suatu tradisi nusantara sebagai urf’ yang mana didalamnya menekankan pemeliharaan tradisi lama yang baik, dan menyublimasi tradisi baru yang lebih baik. Dan semua itu didasarkan kepada akal, pikiran dan hati nurani bangsanya.

Kepada Bung Tere Liye,

Bung, Memang benar tokoh agama atau kyai juga turut mempersembahkan kemerdekaan Indonesia, saya tahu dari agama apapun itu, hingga yang bingung agamanya apa. Semua agamawan di Republik ini juga ikut ikutan berjuang demi tanah air ini. Saya juga masih ingat perjuangan kyai Ahmadiyah yang turut membantu perjuangan kemerdekaan ini, meskipun pada akhirnya Negara nya sendiri mengisolir, mendiskriminasi dan mengusir mereka. Saya juga tahu bung ulama’ Muhammadiyah dan NU turut menyumbang darah demi mengibarkan Sang saka merah putih.

Bung, hendaklah kau meminta maaf kepada Syaikhona Soekarno, Tan Malaka, Hatta, Sjahrir dan pahlawan lainnya. Karena sesungguhnya kalau melihat dari status Bung, Bung masih meremehkan peran mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Saya yakin pengguna facebook dan anak muda paham bahwa proklamator kemerdekaan Republik ini adalah seorang sosialis, nasionalis, bisa dikatakan liberal, membebaskan segala bentuk penindasan, mempersembahkan jiwa raga memerangi penjajah Belanda, Inggris atau Jepang, untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Bung, tidak perlu menjadi penda’i ala televisi, seperti Ustadz AA Gym, Mansur, Maulana dan lainnya, apalagi menggurui sejarah yang salah kepada kami yang masih remaja. Saya rasa Bung cukup duduk manis di depan laptop sambil menuliskan drama cinta kaum remaja yang di candu asmara, itu sudah cukup berkontribusi untuk sastra Indonesia.

Tapi amatlah boleh juga, apabila Bung mengajak remaja nusantara untuk lebih memahami sejarah negara nya dengan baik dan benar, malah akan sangat bahagia. Jikalau hanya sekedar meniru gaya Jonru atau Felix Shau mending menulis syair cinta saja. Saya rasa Bung sudah paham, di era media yang fast respon hendaklah Bung lebih cerdas menggunakan media.

Semoga kopi Bung hari ini menjadi manis, saya yakin bangsa ini bisa memaafkan status Bung di FB, dengan syarat “Belajarlah sejarah Indonesia dengan baik dan benar!”. Bung Karno pernah berkata, “Jasmerah: Jangan Lupakan Sejarah”. Bung tidak boleh lupa atau pun melupa lagi. Bagi saya sejarah amatlah penting, dan laknat Tuhan bagi siapa saja yang membelokkan sejarah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s