W.R Supratman dan Nyanyian yang Terlupakan

nyoozee com

sumber: nyoozee com

Oleh: Al Muiz Ld.

Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak luput dari peran negarawan, agamawan, seniman atau budayawan. Syair sumpah pemuda sebagai kesaksian warga negara atas bangsa, negara dan bahasa menjadi  sebuah energi atas Bhineka Tunggal Ika guna mengusir para penjajah. Ingat, segenap bangsa Indonesia, bukan hanya negarawan atau pun agamawan, akan tetapi termasuk juga seniman, budayawan atau lainnya.

Saya yakin setiap perjuangan untuk meneggakka kebenaran dan kemerdekaan tidak luput dari sebuah jargon, entah itu hymne atau mars para pejuang. Perlawanan negara- negara barat dalam melawan penjajahan juga terdapat iring- iringan musik. Begitulah tradisi perlawanan bangsa-bangsa yang sangat epik, dari Jepang, Jerman, Inggris atau Perancis.

Indonesia punya seorang pemuda hebat yang semangat belajar nya tinggi, khususnya di bidang seni dan musik. Berasal dari keturunan priyayi, tidak menjadikan dirinya malas untuk terus menggalih ilmu pengetahuan dari sekolah rakyat, sekolah dasar Budi Utomo hinga HBS (sejenis SMP di zaman Hindia Belanda). Ia amat suka mendengarkan lagu dari seniman revolusioner asal Perancis, yang pernah ia diskusikan dengan kakak sulungnya Van Eldik.

Siapakah seniman revolusioner yang Wage Rudolf Supratman (WR. Supratman) gandrungi?, dialah Rouget de L’isle, seorang seniman dan komponis Perancis. Bung Rouge adalah pejuang atau pahlawan Perancis yang menciptakan lagu kebangsaan yang berjudul La Marseillase, sebuah lagu yang sering Supratman putar dalam mesin rekamannya. La Marseillase menurut kakak sulungnya yang kebetulan juga seniman menilai lagu kebangsaan ciptaan Bung Rouget sangat berbobot karena lagu itu memiliki fungsi merangdsang semangat dan menggalakkan gairah perjuangan.

Van Eldik membuat Supratman semakin cinta terhadap lagu nasional bangsa Perancis itu, yang memiliki bobot perjuangan. Supratman muda tidaklah mungkin untuk membuat lagu sehebat La Marseillase, karena memang masa remaja adalah masa indah untuk mencintai bunga desa. Setelah ia bosan dalam hal cinta anak remaja, ia juga sempat bekerja di jurnalistik. Sehingga nalar kepedulian berbangsa dan bernegara pada masa kolonialisme Supratman tumbuh, dengan sering ikut berdiskusi mengenai politik dan bacaan kesehariannya. Sehingga dalam tahun yang tidak penulis ketahui W.R Supratman menciptakan lagu yang selevel La Marseillase karya fenomenal Bung Rouget saat Revolusi Perancis pada paruh abad 17 dan hingga saat ini tetap menjadi lagu nasional di Perancis.

Telah kita ketahui bersama bahwa, kemarin tanggal 09 Maret 2016 Indonesia memperingati Hari Musik Nasional (HMN). HMN termaktub dalam Kepres Mbak Mega dan Bang Susilo Bambang Yudhoyono. Sebuah penghormatan yang diberikan kepada Supratman atas lagu patriotnya yakni “Indonesia Raya”, lagu yang setiap hari Senin dinyanyikan oleh segenap warga negara. HMN sengaja dipilih bertepatan dengan tanggal lahir Supratman.

Formalitas dalam perwujudan peringatan hari penting negara hanyalah fiktif birokrat, mengapa?. Jawabannya sangat mudah, lagi- lagi petinggi di Negeri ini melupkan sejarah. Bagaimana tidak, sebuah lagu selevel ciptaan Bung Rouget dalam membela kaum tertidas saat modernitas lahir di Perancis, kini hanyalah sekedar menjadi refleksi peringatan Hari Besar. Akan tetapi, nilai dari syair “Indonesia Raya” telah mengalami distori, yang lucunya dilakukan oleh Petinggi kita dan bangsanya sendiri.

Mari kita tengok syair WR. Supratman dalam “Indonesia Raya”;

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Demikian lah syair perjuangan yang beliau lantunkan untuk mengibarkan semangat perlawanan bangsa ini terhadap penjajah kolonialis-imperial. Tidak perlu lagi saya tafsirkan syair itu, karena bagi saya syair itu lahir dari seorang patriotis yang memperjuangkan kemerdekaan, tanpa lupa bahwa dirinya adalah bangsa Indonesia, sebelum Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan. W.R Supratman menciptakan lagu bukan untuk golongannya, keluarganya, kekasih nya atau diri nya sendiri, akan tetapi menciptakan lagu untuk Indonesia Raya.

Lagu yang diciptakan untuk persatuan dan kesatuan dari kemajemukan, yang tidak pernah abai terhadap nilai luhur Pancasila dan mengamini Bhineka Tunggal Ika mengalami distorsi pemeliharaan nilai perjuangan. Bangsanya sendiri telah lupa akan jasa beliau dan amanah dari “Indonesia Raya” itu, bangsa sendiri telah mendiskriminasi minoritas dari suatu kaum, mengusir seenaknya, membakar tempat ibadah yang tidak seiman, dan menghilangkan nilai- nilai kemanusiaan yang lain. Berbagai tindak ketidakadilan juga turut menindas bangsa sendiri.

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti diskusi bersama tokoh Jaringan Ahmadiyah Indonesia (JAI), bersama Ustadz Muharim Awaluddin (Ketua Pembina JAI Jawa Timur) dan Ustadz Aminullah Yusuf (Pembina JAI Tulungagung). Beberapa paparan singkatnya ialah bahwasannya ahmadiyah Indonesia juga turut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik ini, dan memang benar W.R Supratman adalah salah satu anggota ahmadiyah Indonesia serta nama nya juga tercantum dalam JAI, meskipun demikian kami tidak meminta imbalan kepada negara, kami hanya meminta hak kami untuk mendapatkan perlindungan untuk melakukan kebebasan beragama dan tidak lagi terjadi pengusiran anggota ahmadiyah atau penyegelan tempat ibadah kami seperti kasus di Tulungagung.

Dari banyaknya diskriminasi yang telah merusak persatuan, marilah kita refleksikan bersama bahwa “Indonesia Raya” adalah sebuah lagu yang mempersatukan kita dalam perlindungan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Lagu patriotis yang telah menjiwai bangsa ini untuk melakukan perlawanan, perlawanan yang tiada henti terhadap sebuah penindasan, dari kolonial-kemerdekaan-reformasi. Setiap zaman akan selalu kita nyanyikan, “Indonesia Raya”. Sebagaimana dalam Seruan Bung Karno, pada petikan pidato Presiden Republik Indonesia 28 Oktober 1953, di lapangan Ikada, Jakarta, pada Peringatan 25 tahun Lagu Indonesia Raya;

“ Setia kepada Indonesia Raya, setia kepada lagu Indonesia Raya yang telah kita ikrarkan bukan saja menjadi lagu kebangsaan, tetapi pula menjadi lagu Negara kita. Permintaan bathin kita ialah Allah SWT menjadikan Indonesia Raya ini menjadi lagu kebangsaan, lagu bangsa kita sampai akhir zaman pula. Jangan ada sesuatu golongan memilih lagu baru, setialah kepada lagu Indonesia Raya, setialah kepada Pancasila”.

(potongan pidato Bung Karno ini diambil penulis dari buku ‘Wage Rudolf Supratman’ karya Bambang Sularto yang diterbitkan Kemendikbud, 2012)

  • Indonesia Raya, Merdeka! Merdeka! Merdeka! Tanpa ada diskriminasi –

Malang, 10 Maret 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s