Dialog Toleransi Gusdurian dan GKI

IMG-20150808-WA0009

Oleh: Al Muiz Ld.

“Kebhinekaan merupakan corak yang telah melekat dan mampu bertahan cukup lama di Indonesia. Yang dimana, Secara historikal Indonesia lahir dari beragam keyakinan, suku, ras hingga budaya lokal. Embriologi Indonesia bukanlah lahir dari rahim yang memiliki struktur kemasyarakatan yang homogen, akan tetapi ia adalah “anak kandung” dari heterogenitas kultur masyarakatnya, yang menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia masih begitu kokoh berdiri sampai saat ini. memancarkan nuansa dinamis bagi bangsanya, agar manusia saling memahami satu sama lain bahwa sesungguhnya Tuhannya menciptakan makhlukNya berbeda-beda, untuk saling mengenal (li ta’arafu) serta berlomba-lomba dalam kebajikan (fastabiqul khoirot)”.

Tulisan ini dibuat sebagai catatan singkat atau refleksi personal penulis, setelah diberi kesempatan untuk menghadiri, dan menjadi salah satu “pembicara muda” di perkumpulan rutin sahabat-sahabat Komisi Remaja GKI Tumapel, sebuah persekutuan anak muda yang unik, dengan watak reformatoris, ekumenis, dan progresif. Dengan slogan khas nya (bangga-maju-terlibat terus). Dimana penulis mewakili komunitas Gusdurian Muda Kota Malang, untuk mendampingi pembicara yang lain, Ibu Pendeta Novarita dari GKI Kebon Agung Malang.  Agenda bertajuk “Dialog Lintas Iman Bersama Gusdurian” yang di gelar tanggal delapan agustus 2015, tempo hari.
Seperti yang sudah sering kita agendakan untuk bergerak bersama, diskusi maupun dialog lintas iman di tingkat lokal kota malang. Saat ini, dalam melihat wajah Indonesia sebagai suatu “rahmat” masih seringkali dipertentangkan oleh sebagian individu atau kelompok tertentu yang barangkali kurang memahami histori dan nilai nilai perjuangan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga menimbulkan berbagai polemik atau kekerasan oknum yang mengatasnamakan agama. Tidaklah asing pemberitaan tindak kekerasan (intoleransi) yang mengatasnamakan agama di negeri plural (Indonesia) dewasa ini, yang mungkin juga bisa dikata bahwa praktik-praktik Intoleransi telah muncul di bumi nusantara ketika era kerajaan, kolonial hingga kemerdekaan. Dinamika intoleransi tersebut yang kemudian telah menindas dan memberangus nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan, keadilan hingga kearifan lokal. Bukan hanya lalu dan kini, akan tetapi, kedepan intoleransi juga perlu dikaji dan dijadikan musuh bersama bagi penggiat perdamaian di nusantara.

Sebuah kabar gembira bagi tanah air Indonesia atas kelahiran bayi mungil dari Jombang, putra fajar di bumi pesantren pada tanggal 04 Agustus 1940, cucu Hadratusy Syekh KH. Hasyim Asyari (Pendiri NU), bernama Abdurrohman Wahid alias Gus Dur. Bayi mungil putra pesantren yang tak pernah diduga oleh santri dan masyarakat pada umumnya akan menjadi Presiden Republik Indonesia ke-4. Tak disangka Gus Dur akan menjadi inspirasi bagi kami, kaum muda yang mencintai perdamaian dan persaudaraan tanpa membeda-bedakan agama, suku dan ras. Beliaulah panutan kami dalam menegakkan islam nusantara, menegakkan panji-panji islam yang rahmatan li Indunisy hingga rahmatan li ummatan. Sehingga terjalinlah sinergitas ukhuwah wathoniyah, ukhuwah basyariyah dan ukhuwah islamiyah yang dinamis dan toleran itu. Kegembiraan-kegembiraan itu adalah romansa perjuangan hidup Gus Dur dalam mengimani Sang Khaliq dengan spiritualitas sosialnya. Namun, Kegembiraan itu memudar ketika Gus Dur dipanggil TuhanNya pada tanggal 30 Desember 2009, tugas beliau dalam menebarkan benih perdamaian telah usai, muncullah sebuah pertanyaan, siapakah yang kemudian akan menjadi pelestari-penerus pemikiran beliau?

Sekilas Gusdurian

Gusdurian adalah sebutan untuk para murid, pengagum, dan penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Para GUSDURian mendalami pemikiran Gus Dur, meneladani karakter dan prinsip nilainya, dan berupaya untuk meneruskan perjuangan yang telah dirintis dan dikembangkan oleh Gus Dur sesuai dengan konteks tantangan zaman.

Jaringan gusdurian adalah arena sinergi bagi para gusdurian di ruang kultural dan non politik praktis. Di dalam jaringan gusdurian tergabung individu, komunitas/forum lokal, dan organisasi yang merasa terinspirasi oleh teladan nilai, pemikiran, dan perjuangan Gus Dur. Karena bersifat jejaring kerja, tidak diperlukan keanggotaan formal. Jaringan gusdurian memfokuskan sinergi kerja non politik praktis pada dimensi-dimensi yang telah ditekuni Gus Dur, meliputi 4 dimensi besar: Islam dan Keimanan, Kultural, Negara, dan Kemanusiaan. Adapun misi dari jaringan gusdurian ialah untuk menggerakkan budaya perdamaiaan yang dilandasi 9 Nilai Gus Dur: Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Persaudaraan, serta Kesederhanaan, Sikap Ksatria, dan Kearifan lokal.

Komunitas Gusdurian merupakan jaringan penggerak pemikiran Gus Dur, ditingkat nasional dikomandoi oleh Ibu Alissa Wahid (putri pertama Gus Dur), dan di regional Malang dikomandoi oleh Sahabat Moh. Fauzan. Gusdurian Malang akrab pula dikenal sebagai GARUDA (Gusdurian Muda Kota Malang), dengan aktifitas gerakannya melalui diskusi, aksi dan refleksi. GARUDA Malang dalam perjalannya sejak tahun 2012 awal fokus dalam menggerakkan kajian lintas iman, seminar, bedah buku, English club (GARUDA Rising), hingga kunjungan hari besar agama-agama di Indonesia. Spirit GARUDA untuk menjaga perdamaian selalu berupaya untuk bersinergi dengan lintas komunitas lain yang memiliki nilai perjuangan yang sama di kota Malang.

GKI Malang

Mengenai Gereja Kristen Indonesia (GKI) yang dapat dikatakan sebagai sebuah “gereja baru” di Indonesia sebagai buah penyatuan dari GKI Jawa Barat, GKI Jawa Tengah, dan GKI Jawa Timur. Berdirinya GKI melewati perjalanan sejarah yang panjang, dimulai dengan berdirinya ketiga gereja yang menyatu itu sebagai gereja yang berdiri sendiri-sendiri. Pada tanggal 22 Februari 1934 di Jawa Timur berdirilah gereja yang kemudian disebut GKI Jawa Timur. Demikian juga, pada tanggal 24 Maret 1940 di Jawa Barat berdirilah gereja yang kemudian disebut GKI Jawa Barat, dan pada tanggal 8 Agustus 1945 di Jawa Tengah berdirilah gereja yang kemudian disebut GKI Jawa Tengah.

Awalnya, ketiga gereja ini dikenal dengan nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) yaitu gereja berbahasa Hokian. Gereja THKTKH di Jawa Tengah dan Jawa Timur didirikan oleh Zending dari Belanda (Nederlandsche Zendings Vereeniging) sedangkan di Jawa Barat diawali oleh penemuan sebuah Alkitab berbahasa Melayu oleh Bapak Ang Boen Swie di tahun 1858. Nama Gereja Kristen Indonesia sendiri mulai digunakan pada tahun 1950. Penetapan nama ini menunjukkan kesadaran GKI untuk dapat menjalankan misi dan panggilannya secara nasional, tidak lagi terikat pada suku tertentu saja.

Secara historikal GKI juga memiliki misi untuk menjadi bagian dari inklusif, yang umatnya diajak menebar benih benih kebaikan bagi seluruh umat, tanpa membeda-bedakan suku, ras ataupun agama. Semangat untuk hidup rukun bermasyarakat juga terdapat dalam tata aturan GKI. Perwujudan pemahaman akan pluralitas Indonesia salah satunya telah dilakukan oleh GKI Malang yang agendanya selalu mengajak lintas iman untuk duduk bersama dan memahami ajaran masing-masing agama. GKI Malang melakukan kegiatan yang diandakan setiap tahunnya berupa CAMP atau belajar bersama di kalangan atau di suatu surau agama-agama, diantaranya yang pernah dilakukan ialah di Pondok Pesantren Ngalah Pasuruan, di Vihara Mojokerto, hingga tahun ini direncanakan akan di perkampungan osing Banyuwangi.

Titik temu toleransi

Setiap agama mengajarkan hidup rukun dalam sebuah perbedaan. Pemahan dari Tuhannya juga demikian, untuk menyayangi, mencintai dan rukun dalam keberagaman, karena sesungguhnya Tuhan telah menciptakan perbedaan, agar supaya kita berlomba-lomba dalam kebajikan. Dijelaskan pula oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam bukunya Ilusi Negara Islam. Setiap manusia pasti yakin bahwa Tuhannya Mahatahu, Mahakuasa, Mahapengasih, Maha Penyayang dan seterusnya. Tak ada satu pun di dunia ini yang lepas dari pengetahuan, kekuasaan dan kasih sayangNya. Tuhan mengetahui dan mengatur makhlukNya (manusia). Namun demikian, kekuasaanNya dikendalikan oleh kasih sayangNya (ar-rahmaan ‘alaa al-‘arsy-istawaa [QS.20: 5]). Dengan kekuasaanNya, Allah SWT bisa saja membuat manusia satu umat saja (QS.11: 118), tapi itu tidak dilakukanNya dan Dia biarkan makhlukNya memilih apakah akan beriman atau tidak (QS.18: 29), bahkan Allah SWT bersabda, “Tidak boleh ada paksaan dalam beragama” (QS.2: 256).

Saat forum dialog ini di gelar, beberapa elemen jiwa kaum muda turut hadir. Dari kristen, islam dan budha. Saling merajut bertutur sapa penuh canda, berbagi pesan damai, toleransi dan harmoni mesti berbeda. Karena bisa dirasa, hal ini adalah bagian agung dari kultur masyarakat khas nusantara kita.

Sekian catatan singkat ini dari penulis, semoga manfaat..

Malang, 09 Agustus 2015

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s