Perempuan di Persimpangan Jalan

Oleh : Al Muiz Ld.

Ingatkah kalin akan sebuah kisah wanita hebat sebelum Kartini lahir, ialah Sanikem alias Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia. Seorang gadis pribumi-Belanda yang dijadikan gundik oleh ayahnya sendiri, terbangun dan melawan. Betapa terharunya sebuah kisah Sanikem (Nyai Ontosoroh, sebutan akrabnya di Wonokromo Surabaya) yang terdampar pada sebuah penindasan, ketidakadilan dan feodalisme bangsa Eropa. Gadis berdarah indo-Belanda ini, setiap hari nya dituntut untuk memberi kepuasan Tuannya yang membabi buta. Tidak cukup itu, anaknya yang rupawan, Annelisa Mellema pun telah dinodahi oleh kebringasan abangnya, Robert Mellema, yang akhirnya dinikahkan dengan Minke. Trauma itu membuat jiwanya rapuh, sulit bergaul dan selalu berlindung di balik kebesaran ibunya.

Statusnya sebagai seorang Nyai telah membuat Sanikem sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia yang sepantasnya. Yang menarik, Sanikem sadar akan kondisi tersebut, berusaha keras dengan terus-menerus belajar, agar dapat diakui sebagai seorang manusia. “untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya hanyalah dengan belajar”, ujar Sanikem. Dendamnya kepada bapak nya membuat ia berusaha bangkit dengan belajar segala pengetahuan Eropa; tata niaga, bahasa Belanda, membaca media Belanda, budaya dan hukum Belanda. Sanikem berharap pada suatu hari semua pengetahuan itu akan berguna untuk dirinya dan anak-anaknya.

“Aku harus buktikan pada mereka, apapun yang telah diperbuat atas diriku, aku harus bisa lebih berharga daripada mereka, meskipun hanya sebagai nyai. Sekarang Sanikem sudah mati, yang ada adalah Nyai Ontosoroh.”

Semangat Nyai pun turut diperjuangkan Kartini, pendidikan untuk kaum perempuan. Dengan pendidikan akan mengubah hidup seseorang, dengan pendidikan kaum perempuan diharapkan dapat menjadi ibu yang dapat mendidik anak- anaknya nya dan dapat menjadi pendamping suami dalam menjalani roda keluarga. Begitu rumitnya perjuangan Nyai dan Kartini dalam memperjuangkan pendidikan dan memerdekakan wanita dari bahaya kebodohan dan  ketidakadilan.

Kini, makhluk Tuhan yang paling seksi, begitulah sebutannya dalam sajak keindahan imajinasi. Perempuan alias wanita cukup asyik untuk diperbincangkan, dari keseksian sosial dan lainnya. Ia menempati tempat terindah dari sebuah kesuksesan seorang laki- laki. Akan tetapi, apakah ia bisa menggunakan keindahannya dalam transformasi politik, sosial dan ekonomi. Di meja politik, Indonesia menyediakan quota 30% partisipasi wanita, apakah terpenuhi, saya pikir tidak.

Masih ku ingat betul sajak sumpah pemuda/i yang mengaku bertumpah darah satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Jika ditafsirkan, sumpah pemuda ialah sebuah teks Ikrar (putra/putri) untuk selalu memperjuangkan cita- cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Akan tetapi, fakta mengejutkan dari bangsa kita, banyak dari srikandi kita yang menjadi gundik kapitalisme.

Banyak dari kalian para wanita menjawab seksi ialah ia yang memakai busana modis, bermake up tebal setebal roti tawar dan memadati Caffe atau diskotik. Masih terjadi banyak dilema terhadap kaum hawa di Indoenisa, perannya yang telah terdistorsi oleh zaman kosmetika. Sehingga, produk kecantikan mewabah dalam angka yang amat fantastis. Banyak dari dia yang lupa diri sebagai bangsa Indonesia, yang diperjuangkan pula oleh kaum wanita.

Neo-kolonialisme menjajah bangsa ini dengan cara lama, dalam desain baru. Mungkin kalian masih ingat, wanita zama dahulu identik dengan 3 M (macak, masak, manak: menghias diri, memasak, melahirkan). Kemudian R.A Kartini mengkonstruk mainset itu, dengan dalih emansipasi alias kesetaraan. Emansipasi yang akrab terdengar di telinga akademisi Indonesia sebagai hasil perjuangan Kartini dalam mengangkat derajat wanita, agar menemukan keadilan dan kesetaraan dalam berbangsa dan bernegara. Misi Kartini pun sukses dan bangsa ini pun telah terinspirasi oleh beliau saat “Event Peringatan Hari Kartini dan Hari Ibu”. Akan tetapi, neo-kolonial berkedok kapital ini perlahan mulai menggrogoti jati diri Srikandi Indonesia, dengan cara lama dan strategi baru, seputar 3M.

Wajah baru 3 M telah meracuni mainset dan prilaku perempuan Indonesia, yang paling dominan ialah Make Up. Make up memang menjadi keharusan kaum wanita memperindah dirinya, untuk memberikan daya tarik lawan jenisnya. Akan tetapi, make up yang seperti apa yang telah menciderai emansipasi yang telah diperjuangkan Kartini?. Banyak wanita saat ini menggunakan berlebih,  yang mengakibatkan mainset wanita terpusat pada mempercantik diri, dan berimbas pada tingkah nakal yang kebablasan.

Kenyamanan matrealistik tumbuh subur dan berbanding terbalik saat zaman Sanikem. Kenyamanan kini membuat wanita Indonesia lebih memilih apatis dan antipati terhadap kondisi sosial, politik dan ekonomi Indonesia. Berbeda dari zaman Sanikem dan Kartini, yang ditindas oleh kolonial, hingga dirinya bangkit turut memperjuangkan cita- cita kemerdekaan Indonesia.

Di abad 20-an, Malala hadir turut memberantas kebodohan, kemiskinan dan ketidakadilan. Sehingga ia sadar dan mengajak kepada anak kecil dan muda untuk lebih giat belajar. Putri Pakistan ini terus mengajak anak muda untuk mendapat hak belajar dan hidup yang layak serta menyuarakan perdamaian kepada seluruh penjuru dunia.

Bukan bermaksud untuk mendiskriminasi, kisah yang amat inspiratif di tengah zaman semakin edan sangat dibutuhkan oleh kaum wanita. Kaum wanita hendaklah terinspirasi oleh sosok Sanikem, Kartini atau Malala yang terus melakukan transformasi sosial hingga akhir hayatnya. Apalagi di era 4G dan semakin banyaknya media sosial yang bisa diakses.

“Survei gubuktulis.wordpress.com menyatakan bahwa hampir tidak ada wanita yang turut menyumbang gagasan, ide atau tulisan di media sosial, dan hampir 100 % memadati instragam dengan pamer busana dan kecantikan”

Berdasarkan hasil survei, hendaklah kaum wanita Indonesia membaca lagi gagasan ketiga sosok dari latar belakang yang berbeda dan menginspirasi. Sanikem yang menjadi gundik kolonial, tidak pernah mendapat keadilan dari Belanda akan tetap dia bangkit untuk melawan penindasan, kebodohan dan kemiskinan. Kedua, Kartini dari keluarga Priyai yang tetap resah dan melawan arus kekratonan untuk memperjuangkan keadilan bagi kaum wanita agar diperlakukan setara serta pentingnya pendidikan bagi wanita. Ketiga, Malala yang hadir di tengah dentuman meriam peperangan negara- negara adidaya yang meneriakkan suara perdamaian dan kepedulian akan pendidikan bagi anak muda.

“Dan apakah benar wanita kini berada dipersimpangan jalan peradaban baru?” .. To be Continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s