Kota Kreatif?

FB_IMG_1443022071157

Oleh: Al Muiz Ld.

Bercerita mengenai kota kreatif bagi saya adalah hal baru, bagi orang yang di besarkan di desa, dan baru lima tahun hidup di kota. Sedikit pendahuluan, sejak zaman Nabi Muhammad SAW hadir di muka bumi, gambaran peradaban kota sudah ada. Dan sering disebut sebagai Madinah Al Munawwaroh (Kota yang bercahaya), bahkan sebuah konstitusi dari kota tua ini menjadi rujukan negara- negara untuk membangun kota yang majemuk dan berkeadilan.

Madinah adalah percontohan kota dari penduduknya yang plural dan majemuk, seperti kota- kota di Indonesia. Sehingga dalam mengatur tata ruang yang baik, Nabi Muhammad SAW telah memberikan banyak tauladan, diantaranya yang telah termaktub dalam piagam madinah.

Piagam madinah telah mengatur, menetapkan susunan suatu umat, masyarakat dan pemerintahan. Rasulullah menetapkan semua berdasarkan prinsip-prinsip hubungan bertetangga baik dan persekutuan bersama, yang menjamin kesatuan umat. Diantaranya, piagam madinah memuat hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi semua pihak (defining their rights and obligations) serta jaminan dan perlindungan, piagam madinah mengatur hubungan persaudaraan antara semua orang, serta menetapkan hak-hak dan jaminan perlindungan terhadap semua orang mengenai harta benda dan agama mereka, untuk menjalankan ajaran-ajaran agama mereka dengan bebas dan mengajarkan bahwa suatu negara harus memiliki kedaulatan yang merdeka!.

Kemarin malam, saya bersama teman- teman menghadiri diskusi yang bertajuk “Membangun Kota Kreatif, Menciptakan Kelas Kreatif”. Dialog yang dipandu oleh Pdt. Kristanto Budiprabowo dan disajikan oleh Prof. Djoko Saryono (budayawan), Gustaff H. Iskandar (inisiator BCCF), Charlotte Blackbrun (Perencana tata kota) dan Dr. Ponimin (Pelaku industri kreatif) membuat saya terinspirasi untuk menyumbang gagasan atau refleksi terkait tema pembangunan tersebut, khususnya di lokal Malang. Pembangunan sebuah daerah harus lah menjadi tanggung jawab bangsa dan peran pemerintah dalam memberikan aspirasi.

Kreatifitas adalah wujud dari pemberdayaan akal sehat untuk turut memberikan manfaat, kebahagiaan bagi masyarakat dan lingkungan. Manfaat dan kebahagiaan menjadi landasan suatu kreatifitas layak disebut, ketika tidak memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi sekitar, maka itu hanyalah produk buta. Apalagi, jikalau kreatifitas hanyalah sistem dari pemerintah dan sokongan dari investor lokal atau asing.

Mengacu pada refrensi lama (Piagam madinah) bahwa kota yang dicita- citakan hendaklah memenuhi dari beberapa aspek. Beberapa yang bisa saya tafsiri ialah, pembangunan kota haruslah dilandaskan nilai- nilai kemanusian, keadilan, kesetaraan dan kearifan lokal. Sehingga sebuah kota bisa memiliki kedaulatan dalam berkreasi dan kemerdekaan nya sendiri. Selama ini apakah pembangunan atau pegiat kota kreatif sudah mempertimbangkan nilai- nilai tersebut?. Disinilah masyarakat dan pemerintah perlu turut rembuk.

Pertama, kota kreatif harus menjunjung tinggi kemanusiaan. Bagaimanapun kota yang dibangun adalah untuk dinikmati oleh masyarakat (manusia), sehingga nilai- nilai kemanusiaan haruslah hadir di tengah kreatifitas.  Memberikan ruang publik yang layak bagi siapapun, tanpa diskriminasi dan merendahkan harga diri manusia. Kota kreatif tidak dibangun atas kesewenang- wenangan birokrat, seperti penggusuran- penggusuran dalam skala besar yang kurang manusiawi tanpa ada good oriented and wining solution.

Kedua, membangun kota dengan keadilan. Banyak terjadi kasus di kota- kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Malang dan lain- lain. Pembangunan berbasis kapital kini telah menjamur di kota- kota besar, sehingga banyak warga sekitar yang tidak lagi mendapat jaminan hidup. Kehidupannya telah terancam dengan bangunan besar, tinggi dan megah itu. Sehingga apa yang terjadi, warga asli daerah tersebut telah ditindas oleh mega proyek hotel, Kondominium, Estat dan Royal Market. Warga sangat sulit untuk mendapatkan udara yang layak, air yang cukup bahkan sinyal 2G sekalipun.

Ketiga, pembangunan kota telah mengkerdilkan kesetaraan berbangsa dan bernegara. Ruang publik telah terkotak- kotakan oleh sebagian kelompok, kelompok ini dan itu. Sehingga masyarakat kurang bisa membaur dalam kemajemukan biologis, budaya dan agama. Terlalu banyak dikotomi- dikotomi di kota yang telah dianggap kreatif itu.

Keempat, ialah mempertahan nilai lokal sebagai kekuatan tradisi dan pendidikan bagi warga negara juga amatlah penting. Banyak kreator kota lupa bahwasannya kearifan lokal dari sebuah kota layaklah untuk dipertahankan. Sehingga budaya sebagai point of education tidak lenyap dimakan pembanguna berkedok modernisme. Sebagai kasus yang telah diceritakan Pdt. Tatok (Arek Ngalam asli) kepada saya, “Batu (dahulu: Malang, sebuah kota di Jawa Timur) memang diproyeksikan sebagai kota wisata yang memperhatikan kearifan lokal dan keindahan alam nya, tempat wisata Selekta dahulu dijadikan ladang penghasilan bagi warga sekitar, dimana di depan wahana berjejeran penduduk menggelar hasil panen berbagai bunga, sehingga setiap pengunjung dapat membeli bunga sebagai oleh- oleh khas Batu atau sekedar melihatnya. Akan tetapi, setelah dilakukan renovasi, penduduk sekitar Selekta kini tinggal menyangga dahi akibat ditlekung pemerintah dan investor/korporasi yang abai terhadap kesejahteraan dan kedaulatan ekonomi rakyat, pada akhirnya penduduk tidak lagi bisa berjualan di depan wahana. Karena, kebijakan pembangunan wisata yang berkedok kapitalisasi.

Saya melihat sumber daya alam dan manusia Indonesia amatlah mendukung untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Diakui atau tidak, pembangunan disebagian kota (seperti Bandung), dapat diterima warga nya sebagai pembangunan kreatif untuk kota dan kelas kreatif. Banyak ruang publik yang didesain full education, green and clean yang sedikit banyak masih memperthankan budaya lokal. Karena memang kebetulan walikota nya sendiri sangat paham arsitek dan tata ruang kota.

Refleksi bagi saya sebagai warga negara, baiknya semua bangsa segera mengambil alih peran itu, menjadikan kota sebagai rumah idaman bagi dirinya dan siapa saja yang berkunjung dengan menjunjung empat nilai tadi, dan jangan bergantung kepada negara. Jikalau negara feat investor/korporasi merepotkan dan tidak memberikan support, maka hanya ada satu kata LAWAN!. Karena sejatinya itulah kedaulatan berkreasi di negeri yang katanya merdeka ini.

“Kota kreatif dibangun berdasarkan nilai kemanusian, keadilan, kesetaraan dan kearifan lokal, begitulah dahulu nenek moyang membangun rumah adat, padepokan dan zig- zag persawahannya”.

Wassalam. (Jilid 1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s