Bangsa Kagetan

baby-shocked-face-02

Oleh: Al Muiz Ld.

Seketika Indonesia yang diperjuangkan kemerdekaannya oleh pendahulu kita berubah menjadi histeris alias kagetan. Negara besar yang diperjuangkan hingga titik darah penghabisan dan seketika  tulang- tulang berserakan diliputi debu (sajak WS Rendra). Bukanlah gurauan para pahlawan dan founding father kita memperjuangkan tegaknya kepulauan Nusantara di atas apungan samudera yang luas.

Penulis teringat akan sebuah kisah fenomenal dari salah satu sastrawan tetralogi Pulau Buru Pramodya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa. Bahwa, ketidakadilan memang berawal dari sejak manusia itu lahir, akan tetapi keji nya ketidakadilan merongngrong negeri ini sejak perompak masuk ke Nusantara, sebut saja penjajah. Penjajah dengan seenaknya menindas, mendiskriminasi dan membunuh. Tiadalah kata kesetaraan, keadilan apalagi kemanusian. Terdapat banyak diskriminasi terhadap warga pribumi, Akan tetapi perlawanan tetap digaungkan oleh anak bangsa yang sadar akan cita cita luhur Indonesia melalui berbagai cara, karya atau pun idealisme. Sehingga kemerdekaan dapat dikumandangkan oleh Bung Karno 45.

  “Kekuatan yang kita miliki mungkinlah tidak sebanding dengan ketidakadilan yang ada, tapi satu hal yang pasti: ‘Tuhan tahu bahwa kita telah berusaha melawannya’.” Pramodya Ananta Toer- Anak semua Bangsa

Musim ini Indonesia dilanda ketakutan dan kekerdilan yang luar biasa, yang dibuat oleh media dan netizen mabuk di negeri ini, seperti berita kesesatan Gafatar dan Teror Sarinah

Gafatar Kaget

Bulan lalu bangsa ini dikagetkan dengan berita kesesatan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Gafatar diberitakan diberbagai media online atau cetak sebagai aliran sesat dan teroris, kemudian lekas ditanggapi pula dengan MUI bahwa organisasi itu telarang dan sesat. Pelabelan sesat atau teroris seakan milik semua bangsa ini. Semua bangsa boleh dengan enak nya melabeli haram, dosa dan sesat kepada siapapun (komunitas atau organisasi) tanpa mengetahui latar belakang dan analisa media. Penikmat media seketika buta dengan berita dan gerakan share massal di medsos pun seakan menjadi ibadah wajib ain bagi bangsa ini.

“Bukan kah bangsa ini adalah bangsa yang besar, besar akan kasih sayang dari pada benci, besar akan persaudaraan dari pada permusuhan serta besar akan keberanian dari pada ketakutan”.

Akan tetapi, beriring dengan cepat nya laju media, terasa bangsa ini dikelabuhi oleh kekerdilan. Netizen dengan berlagak superhero membagikan berita terkait hal “sesat, kafir, teroris” di segala medsos di handphone nya atau berlagak malaikat dengan mengirim petuah- petuah yang belum jelas keshohihannya akan jaminan surga. Seolah bangsa ini telah memiliki dua tujuan surga dan neraka saja.

Gafatar memiliki sejarah dan perjuangan yang Nasionalis, hanya perlu adanya pelurusan teologi saja, dan itu sejatinya menjadi urusan Negara. Negara harus ambil alih kasus ini dengan bijaksana, dengan memahami dari berbagai sisi. Sehingga, korban eks anggota gafatar segera mendapatkan pendampingan psikologis dan teologis dari pemerintah. Jangan biarkan anak bangsa di era media ini menjadi bully media dan didiskriminasi. Negara harus memperlakukan segala warga negara nya dengan adil dan setara.

Sarinah Kaget

Menyusul kasus sarinah yang mengalihkan pandangan bangsa ini pada ketakutan. Ketakutan akan teror pembunuhan dikeramaian kota. Lagi lagi bangsa ini dibikin heboh oleh media.

Banyak eksploitasi analisis terkait tragedi ledakan bom di Sarinah Jakarta waktu itu, diantaranya uji coba strategi teror, latihan militer hingga pengalihan isu freeport/ perusahan tambang lainnya. Strategi teror atau gerakan pembunuh massal layak nya bom bali yang dilakukan oleh komunitas pembunuh yang seolah berjihad fi Sabilillah itu memiliki peta rantai kapitalisasi penjajahan yang masif, sehingga bisa dibuat premis pertama bahwa di sarina telah terjadi uji coba pengeboman. Kedua, latihan militer oleh pasukan militer Indonesia, akan tetapi melihat media, analisa ini sangat lemah. Ketiga, pengalihan isu media terkait perpanjangan kontrak freeport dan pabrik tambang lainnya, itu pun hanya pengalihan media.

Apapun bentuk analisa dan kepentingan beberapa pihak yang telah membuat bangsa ini kaget dan heboh. Maka tetaplah kami mengutuk segala bentuk pembunuhan, apapun alasan nya, dan apa pun misi nya. Selagi bisa kita dialog kan.

Nasib Bangsa Indonesia

Nasib bangsa ini telah di monopoli oleh media, pemodal dan penguasa. Bangsa yang memiliki banyak variasi budaya, seni dan kreatifitas ini akan kah hanya sekedar dikelabuhi oleh ketiga elien itu, sehingga pergerakan bangsa Indonesia tiadalah ada kebanggan sedikitpun. Bung Karno mengajak bangsa ini untuk berdiri di kaki sendiri (berdikari) kan?.

Akan tetapi, tetap saja kita kagetan dengan hal- hal yang empuk untuk dikritisi. Bukankah kita bagian dari bangsa yang diperjuangkan mati-matian kemerdekannya, sehingga kita bisa tetap duduk dan nyruput kopi dengan keindahan persaudaraan di tengan perbedaan. Bukankah kita telah disediakan surga Nusantara berjuta- juta kekayaan alam untuk kita nikmati bersama tanpa ada intervensi siapapun, dan memang harus tetap kita perjuangkan.

Penulis juga mengamini statmen Kang Emil (Wali kota Bandung), “Negeri ini butuh banyak pemuda pencari solusi, bukan pemuda pencaci maki”. Ya demikian inilah kondisi negeri ini, bukan lah bermaksud untuk mencaci siapapun, akan tetapi kasus bangsa kagetan ini layak nya menjadi refleksi bersama bahwa Indonesia membutuhkan pemuda yang lekas mencari solusi dari problematika yang ada, dan tetap mengkritisi kebijakan Penguasa yang tidak maslahah lil Umm. Pram pernah menuliskan, “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa denganperlawanan” pula.

Silogisme terakhir dari penulis ialah,“Pemuda wajib untuk mendidik penguasa dengan perlawanan dan wajib pula untuk melakukan kreatifitas guna mencari solusi dari problematika bangsa”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s