Kejutan dari Timor Leste

CIMG0293

Bersama Menteri Timor Leste di Hotel Tugu Malang

Oleh: Al Muiz Ld.

Coretan ini akan menyusuri sekilas terkait negara yang dulunya bagian dari Republik Indonesia (RI), Timor Leste. Berdasarkan informasi dari Wikipedia, Republik Demokratik Timor Leste (juga disebut Timor Lorosa’e), yang sebelum merdeka bernama Timor Timur, adalah sebuah negara kecil di sebelah utara Australia dan bagian timur pulau Timor. Selain itu wilayah negara ini juga meliputi pulau Kambing atau Atauro, Jako dan Anklave, Oecussi- Ambeno di Timor Barat. Timor Leste dulu adalah salah satu provinsi di Indonesia, Timor Leste secara resmi merdeka pada tanggal 20 Mei 2002. Sebelumnya bernama Provinsi Timor Timur, ketika menjadi anggota PBB, mereka memutuskan untuk memakai nama Portugis “Timor Leste” sebagai nama resmi negara mereka.

Diketahui bersama bahwa Timor Leste merupakan bekas jajahan Portugis, setelah Portugis dilanda revolusi anyelir, akhirnya pada tahun 1976 Timor Timur resmi bergabung dengan Indonesia. Akan tetapi, setelah itu warga Timor Timur masih mengalami konflik horisontal hingga tahun 1980 yang dikenal dengan perang saudara yang menewaskan sekitar 100.000 korban jiwa, dan insiden santa cruz pada tahun 1991. Konflik kemanusiaan sering terjadi disini, dan nyawa sangat ringan untuk melepas diri dari jasadnya. Sehingga, Presiden RI, BJ. Habibie mengeluarkan referendum pemisahan diri Timor Timur dari Indonesia pada 1999, akan tetapi setelahnya masih terdapat konflik antara pro dan kontra kemerdekan. Pada akhirnya, dengan tegas dan berani Gus Dur (Presiden RI-4) meresmikan pemisahan dan memberikan kemerdekaan untuk Timor Leste pada tahun 2002.

“Uskup Bello dan Xanana Gusmao tentu bisa berkisah tentang bagaimana Gus Dur berupaya menindaklanjuti soal kemerdekaan Timor Leste dalam kacamata resolusi konflik yang sudah begitu panjang dan mahal harganya bagi Republik Indonesia” ujar Alissa Wahid (diambil dari NU-online).

Semakin menarik ketika menceritakan Timor Leste, dengan sejarah kelam yang penuh perjuangan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan, hingga akhirnya merdeka pada 2002. Selengkap ini adalah kejutan- kejutan dari Timor Leste yang direpresentasikan oleh pemerintah Timor Leste saat berkunjung di Malang.

Pengalamn Pertama

Baru pertama kali saya ingin membincang negara berkembang satu ini. Pengalaman yang bernilai bagi penulis ialah ketika diberi kesempatan untuk melakukan wawancara dengan Menteri Kordinator Administrasi Negara Timor Leste 2015- selesai, Dionisio Soares Babo, Ph.D. Pewarta pemula yang langsung diberi kesempatan untuk mewancarai kunjungan mewakili media Genesis Publishinh (media gerakan insan ulul albab), dengan berbekal rekaman di handphone dan kamera digital. Saat itu kami melakukan wawancara eksklusif di hotel tugu Malang.

Ya, saat saya menemukan kenikmatan dalam melakukan hal, suatu hal yang baru dan sangat jauh dari keseharian saya. Ternyata, kenikmatan itu bisa kita temukan dalam pekerjaan apapun, bukan soal suka atau tidak, akan tetapi bagaimana kita bisa menikmati setiap langkah yang kita lakukan, sehingga dapat menemukan rasa nikmat dalam melakukan pekerjaan. Menjadi pewarta atau jurnalis memang bukan cita- cita saya, akan tetapi selama akhir ini kami menemukan suatu hal berharga saat menjadi jurnalis.

Pekerjaan yang susah susah mudah atau mudah mudah susah ini sebenarnya terdapat beberpa kepuasan. Pertama, kepuasan intelektual dalam menggali wawasan yang ada disekitar kita, sehingga dalam istilah sambil berenang minum air, sambil liputan kita diskusi. Kedua, mengasah mental pemberani dalam melakukan komunikasi dengan siapa pun, entah itu petinggi atau priyai dan ketiga adalah suatu pekerjaan yang fleksibel untuk dilakukan.

Terusik akan Misi Modernisasi

Memang benar Timor Leste adalah negara berkembang di Asia tenggara. Negara yang masih memiliki kekayaan alam yang melimpah itu, dan memiliki sumber daya manusia yang akan segera di upgrade menjadi manusia berkualitas. Akan tetapi, ada apa kemudian dengan misi kerjasama yang dilakukan pemerintah Timor Leste.

Dinisio Soares Babo memaparkan kunjungannya ke Malang ini untuk tiga hal ageda. Pertama, menandatangani MoU dengan Universitas Brawijaya dalam hal peningkatan sumber daya manusia di bidang administrasi negara, serta pertukaran mahasiswa asing. Kedua, Ia melakukan kunjungan ke rumah Bupati Malang, bilangnya hanya sekedar mengucapkan selamat atas terpilihnya menjadi bupati kedua kalinya, dan sekaligus membaca potensi kerja sama yang ada. Ketiga ialah kunjungan ke salah satu pondok pesantren (Ponpes) Al Huda Wajak, guna melakukan kerja sama dalam bidang pengembangan pendidikan, yang sejauh ini pesantren di Indonesia telah memberikan pemahaman bersama akan toleransi antar agama, suku dan ras.

Ketiga kunjungan tersebut saya akui merupakan hal wajar dalam melakukan hubungan bilateral yang baik antar kedua negara, serta kerjasama mutualisme. Akan tetapi sedikit tercengang atau bisa dikatakan terusik ketiaka Ia mengatakan bahwa di Timor Leste memiliki lahan luas untuk dilakukan pemanfaatan skala besar, seperti pendirian pabrik semen, tambang dan industrialisasi lainnya. Apakah dengan adanya modernisasi semacam pendirian industri dalam skala besar akan menjadi kesejahteraan rakyat disana?. Bukankah alam telah memberikan kehidupan yang tulus kepada manusia?. Pertanyaan itu, saya bawa pulang dan semoga pemerintah sadar akan maksud modernisasi sesungguhnya.

Cukup di Indonesia

Bukan kah sudah cukup model modernisasi yang demikian itu. Pemerintah Timor Leste juga seharusnya bisa belajar dari Indonesia, negara yang kaya akan sumber daya alam, akan tetapi rakyat nya tidak pernah menikmati kekayaan itu. Sudah benar Pak menteri melakukan kerja sama dengan Indonesia dalam peningkatan Sumber Daya Manusia, dengan harapan supaya rakyat disana dapat memanfaatkan alamnya sendiri.

Konflik-konflik pengelolaan SDA ini banyak sekali terjadi di Indonesia.  Di dalam banyak kasus SDA, warga seringkali menjadi korban langsung.  Ini terjadi misalnya dalam kasus: Luapan Lumpur Lapindo, Penanaman dinamit untuk uji seismik Exxon di Jombang,  Konflik warga dengan rencana pendirian PLTU di Batang,  Konflik warga dengan perusahaan migas di Sumenep, Madura,  Konflik air antara warga dengan PT Aqua di Klaten, konflik warga dengan tentara dan tambang pasir besi di Kebumen, Konflik warga dengan pabrik semen di Pati,  Konflik warga dengan pabrik semen di Rembang,  Konflik warga dengan Chevron di Cirebon, Konflik warga dengan penambangan pasir besi di Kulon Progo, Konflik warga dengan penambangan emas di Banyuwangi, Konflik warga dengan penambangan Batubara di Kalimantan Timur, konflik tambang di Lumajang akhir 2015 dan masih banyak lagi.

Sehingga butuh kejernihan hati dan pikiran oleh pemerintah Timor Leste, asas kesejahteraan dan kedaulatannya. Melakukan revitalisasi alam hendaklah dilakukan sesuai kebutuhan dan asas manfaat yang ada, jangan lah dilakukan reklamasi atau pun eksploitasi alam besar besaran, yang ujung ujungnya hanya menguntungkan investor dan pemerintah. Belajar tidak hanya dari sesuatu yang terlihat bagus, akan tetapi pelajari juga konflik atau kebobrokannya. Salam Damai terhadap Alam.

Wassalamualaikum. Wr. Wb

*Coretan 30-12-2015 di kota Malang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s