Toleransi Global?

1 toleransi global

sumber: weheartit com

Oleh: Al Muiz Ld.

Dekade terakhir ini sering kita dengar konflik antar umat yang memecah belah persatuan dan kesatuan. Pertempuran-pertempuran bermunculan di muka bumi ini yang menginginkan suatu keuntungan kesepihakan, sehingga tidak lagi memikirikan kepentingan yang lain. Perang ideologi yang sudah tidak dilandasi asas keberanekaragaman, sehingga menimbulkan social impact yang negatif. Golongan radikalisme yang mengatasnamakan agama yang tidak lagi berpihak pada kemaslahatan semesta alam, serta konflik-konflik panas lainnya yang sedang membuat dentuman perpecahan bermunculan di dunia fatamorgana ini.

Di bagian bumi yang lain, agresi militer Israel yang menyerang Gaza dengan landasan politik kekuasaan (berkuasa), transculture atau persoalan keyakinan. Konflik tersebut merupakan bentuk penindasan yang tidak manusiawi, banyak anak kecil, remaja dan orang tua yang meninggal dengan tragis dan alam yang rusak parah dalam agresi tersebut. Kecewanya, dentuman-dentuman itu disuarakan mengatasnamakan perdamaian yang kesetanan itu, mengusik nurani banyak relawan untuk meredam konflik tersebut.

Insiden lainya ialah maraknya golongan transnasionalis yang menggerogoti jati diri Bangsa Indonesia serta mengatasnamakan islam sebagai alat pemecah belah. Golongan transnasionalis tersebut merusak NKRI dengan berbagai cara yang anarkis dan amoral. Salah satunya sebut saja ISIS, golongan ISIS merupakan hasil impor dari Israel yang diadopsi oleh pemain lama, salah satunya warga negara Indonesia. Ciri-ciri gerakan ini adalah ia fasikh dalam membaca Al Qur’an tapi tidak bisa menafsirkan, ia mencari tawanan perawan yang diperuntukkan untuk mengakomodir kebutuhan sex tentaranya dan melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap oknum yang tidak seideologi. Golongan tersebut melakukan agresi yang menyeluruh dengan cara mengajak pemuda-pemuda khususnya untuk menjadi bagian dari golongan tersebut, yang kemudian memiliki misi menjadikan Indonesia sebagai negara islam dengan kekerasan dan peluru, serta untuk merusak ideologi Pancasila yang telah dijadikan pusaka bagi bangsa Indonesia. Masih banyak lagi golongan transnasional-radikalisme di Negeri ini yang perlu diperhatikan bersama.

Sungguh ngeri negeri yang multikultaral ini (Indonesia) dijadikan santapan empuk oleh pelaku transnasional-radikalisme. Ia melakukan misinya dengan cara yang tidak manusiawi, melakukan kemaslahatan yang tidak pernah maslahat, melakukan spiritualitas yang sesat, melakukan peperangan yang tidak mendamaikan, melakukan pembunuhan yang tidak berlandaskan. Semua itu merupakan tindakan-tindakan yang bukan islami (damai). Ketika semua konflik didalangi oleh asas politik transculture atau perbedaan keyakinan, maka bukan lah peperangan penyelesaiannya. Peluru bukan pendamai, penengah atau penyelesaian, toleransi lah yang merupakan penyelesaian dalam keberanekaragaman (plural). Oleh sebab itu, sikap toleransi harus ditanam oleh umat manusia, apalagi yang berada di negeri multikultural ini.

Cak Nur (Nurcholish Madjid) dalam kolomnya di Republika tanggal 10 Agustus 1999 menulis demikian: Pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakaat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru hanya menggambarkan pesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sekedar sebagai “kebaikan negatif”, hanya ditilik dari kegunaannya menyingkirkan fanatisme (to keep fanatism at bay).  Pluralisme harus dipahami sebagai “pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban” (genuine engagment of diversities within the bonds of civility). Bahkan pluralisme adalah juga suatu keharusan bagi keselamatan umat, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan yang dihasilkannya. “Seandainya Allah tidak mengimbangi segolongan manusia dengan segolongan yang lain, maka pastilah bumi hancur; namun Allah mempunyai kemurahan yang melimpah kepada seluruh alam” QS.Al Baqoroh.

Toleransi merupakan sikap yang ramah dalam kehidupan sosial dan berbudaya. Sikap tersebut seharusnya harus ditanamkan sejak kecil, sehingga ketika dewasa anak memiliki sikap yang arif dan bijaksana dalam berucap, bertindak bahkan berfikir. Toleransi adalah sebuah pilihan dalam menjalankan kehidupan berdampingan. Pluralisme juga perlu dirumuskan dalam sebuah lembaga formal maupun informal, sehingga pemahaman tersebut dapat diilhami dengan masif.

Dijelaskan pula oleh KH. Abdurrohman Wahid dkk dalam bukunya Ilusi Negara Islam. Setiap manusia (muslim) pasti yakin bahwa Tuhannya Mahatahu, Mahakuasa, Mahapengasih, Maha Penyayang dan seterusnya. Tak ada satu pun di dunia ini yang lepas dari pengetahuan, kekuasaan dan kasih sayangNya. Tuhan mengetahui dan mengatur makhlukNya (manusia). Namun demikian, kekuasaanNya dikendalikan oleh kasih sayangNya (ar-rahmaan ‘alaa al-‘arsy-istawaa [QS.20: 5]). Dengan kekuasaanNya, Allah SWT bisa saja membuat manusia satu umat saja (QS.11: 118), tapi itu tidak dilakukanNya dan Dia biarkan makhlukNya memilih apakah akan beriman atau tidak (QS.18: 29), bahkan Allah SWT bersabda, “Tidak boleh ada paksaan dalam beragama” (QS.2: 256).

Perlu diketahui bersama, bahwa September 2015 negara akan merumuskan target Sustainable Development Goals (SDGs) skala 2015-2030 yang salah satu target yang ditawarkan dunia ialah, “mendorong masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan yang berkelanjutan, memberikan akses keadilan bagi semua dan membentuk lembaga-lembaga yang efektif, akuntabel, dan inklusif di seluruh lapisan”.  Sehingga, dalam memikul tanggung jawab bersama dalam memelihara perdamaiaan antar negara, bangsa dan agama perlu disertakan nilai-nilai toleransi dan keadilan.

Oleh karena itu, mengapa tidak untuk bersama memilih dan menanamkan toleransi dan keadilan sebagai alat pemersatu bangsa. Semua manusia yakin bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, dan tiada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan, kecuali suatu kesesatan dan kesetanan. Alangkah indahnya ketika sikap toleransi bisa kita maknai, implementasikan dan ajarkan kepada semua umat agar kita bisa hidup berdampingan dengan damai tanpa ancaman dari siapapun.

“Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi”

-KH. Abdurrohman Wahid-

 “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam tindakan”

-Pramodya Ananta Toer-

“This is what my soul is telling me: be peaceful and love everyone”

-Malala Yousafzai-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s